<div
style="overflow:auto;width:430px;height:120px;padding:10px;border:1px
solid #eee"><script style="text/javascript" src="http://antigaptek.googlecode.com/files/daftarisi.js"></script><script src="http://Imron Rojali.blogspot.com/feeds/posts/default?max-results=9999&alt=json-in-script&callback=loadtoc"></script>
</div>
Jumat, 22 Oktober 2010
Kamis, 21 Oktober 2010
UNSUR
1. Notasi Unsur
Contoh : Perhatikan 23X11, tentukan nomor atom, jumlah proton, jumlah electron, nomor massa dan jumlah neutron.
Penyelesaian
Bila seperti ini jangan lupa posisi angka dan rumus-rumus sebagai berikut :
Angka di atas (paling besar) adalah nomor massa, sedang Angka di bawah (paling kecil) adalah nomor atom. Jadi nomor massa = 23 dan nomor atom = 11.
Rumus jumlah proton = nomor atom, jumlah electron = proton dikurangi muatan. Jadi jumlah proton = 11 dan jumlah electron = 11–0 = 11.
Rumus jumlah neutron = nomor massa – jumlah proton. Jadi jumlah neutron = 23 – 11 =12.
Mudah-mudahan ini dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan lain yang berkenaan dengan notasi unsur.
2. Penentuan Posisi Unsur di dalam Tabel Periodik Unsur
Contoh : Perhatikan 23X11, tentukan letak golongan dan perioda unsur X di dalam tabel periodik unsur !
Penyelesaian
Untuk mengatasi sulitnya penulisan konfigurasi, ikutilah cara pengisian elektron pada setiap orbital (jenis-jenis orbita : orbital s, orbital p, orbital d, dan orbital f), dan harus diingat pada orbital s jumlah elektron maksimum 2 buah, pada orbital p jumlah elektron maksimum 6 buah, pada orbital d jumlah elektron maksimum 10 buah, pada orbital f jumlah elektron maksimum 14 buah.
Pengisian elektron menurut Aufbau sebagai berikut : dengan jumlah elektron yang maksimum
1s2,
2s2, 2p6,
3s2, 3p6,
4s2, 3d10, 4p6,
5s2, 4d10, 5p6,
6s2, 4f14, 5d10, 6p6,
7s2, 5f14, 6d10, 7p6
Jumlah elektronnya = proton – muatan = 11 – 0 = 11 buah,
dikonfigurasikan : 1s2, 2s2, 2p6, 3s1.
Kemudian menentukan letak golongan dengan memperhatikan orbital terakhir dan jumlah elektron valensinya.
Untuk menentukan jenis golongan (utama(A), atau transisi (B), dan transisi dalam (lantanida-aktinida), perlu diperhatikan hal-hal berikut.
Orbital terakhir s maka jenis golongan A (utama) jumlah elektron valensi = n dari sn
Orbital terakhir p maka jenis golongan tetap A (utama) jumlah elektron valensi = 2+n dari s2 pn.
Orbital terakhir d maka jenis golongan B (transisi) jumlah elektron valensi = 2+n dari s2 dn
Orbital terakhir f maka jenis golongan transisi dalam (lantanida dan aktinida) jumlah elektron valensi = 2+n atau (2+n)–10 dari s2 fn
Jadi untuk konfigurasi di atas : orbital terakhir adalah s1 maka jenis golongan A, dan golongan = elektron valensi = 1. Dapat disimpulkan letak golongannya adalah : Gol. IA.
Kemudian kita menentukan letak periodanya dengan memperhatikan banyaknya jumlah kulit elektronnya. Perhatikan kembali konfigurasinya : 1s2, 2s2, 2p6, 3s1
Terlihat jumlah kulit elektronnya ada 3 jadi unsur tersebut ada pada perioda 3.
Kesimpulan unsur X terletak pada golongan IA dan perioda 3
3. Membandingkan sifat-sifat unsur dalam tabel periodik unsur.
Contoh : Perhatikan antara atom Hidrogen (H) dan atom Okisgen (O) terjadi ikatan kovalen tunggal seperti pada air :
Tentukan unsur yang lebih kuat menarik elektron antara atom H dengan atom O bila diketahui nomor atom H=1 dan nomor atom O=8.
Penyelesaian
Kemampuan untuk menarik suatu elektron yang berikatan adalah sifat keelektronegatifan. Untuk mempermudah kita harus ingatkan sifat-sifat unsur yang terdapat dalam tabel periodik : 1. Dari kiri ke kanan dalam arah horizontal (perioda) sifat kelektronegatifan unsur, afinitas elektron, energy ionisasi semakin besar sedangkan jari-jari atom dan sifat logamnya semakin kecil. 2. Dari bawah ke atas dalam arah vertical (golongan) sifat keelektronegatifan unsur, afinitas elektron, energy ionisasi semakin besar sedangkan jari-jari atom dan sifat logamnya semakin kecil.
Jadi kita tentukan posisi atom H dan atom O dalam tabel periodik, pertama menentukan mana yang lebih kanan jika sama, kemudian kita tentukan mana yang lebih atas.
Atom dengan nomor atom 1 = konfigurasi 1s1 (Gol. IA perioda 1)
Atom dengan nomor atom 8 = konfigurasi 1s2, 2s2, 2p4 (Gol. IVA perioda 2)
Jadi unsur yang paling kanan adalah atom yang bernomor 8 (Gol. IVA) yaitu unsur O lebih kuat menarik elekron dari ikatan antara O dan H.
4. Menentukan massa atom relatif dan massa molekul relatif
4.1. Menentukan massa atom relatif
Contoh : Dengan adanya spektrostokopi massa diketahuilah atom-atom dari satu unsur (unsurnya sama) ternyata ada sedikit perbedaan yaitu ada yang berbeda massanya (berisotop). Seperti unsur khlorin diketahui memiliki 2 iostop, yaitu khlorin-35 dengan kelimpahan di alam sebanyak 75% dan khlorin-37 dengan kelimpahan di alam sebanyak 25%. Tentukan massa atom relatif unsur khlorin !
Penyelesaian
Untuk menghitung massa atom relatif khlorin, kita harus mengetahui terlebih dahulu massa rata-rata 1 atom khlorin. Dari soal tidak ada massa rata-rata 1 atom khlorin, hanya ada isotop-isotop khlorin. Oleh karena itu kita harus menghitung terlebih dahulu massa rata-rata 1 atom khlorin dari isotop-isotpnya.
Khlorin punya 2 isotop, yaitu :
1. Khlorin-35 sebanyak 75%
2. Khlorin-37 sebanyak 25%
Massa rata-rata unsur khlorin = [(massa isotop 1) x persennya]+[(massa isotop 2) x persennya]
= [35 gram x 75%] + [37 gram x 25%]
= [2625%] + [ 925%] = 35500% = 35,5 gram
Jadi massa rata-rata satu atom khlorin = 35,5 gram
Kemudian kita hitung massa atom relatif khlorin (dilambangkan Ar Cl)
Ar Khlorin = massa rata-rata 1 atom Khlorin / (massa 1 atom C-12 / 12)
= 35,5 gram / (12 gram /12)
= 35,5
(catatan : massa 1 atom C-12 = 12 gram)
Jadi massa atom relatif khlorin = 35,5
Contoh : Perhatikan 23X11, tentukan nomor atom, jumlah proton, jumlah electron, nomor massa dan jumlah neutron.
Penyelesaian
Bila seperti ini jangan lupa posisi angka dan rumus-rumus sebagai berikut :
Angka di atas (paling besar) adalah nomor massa, sedang Angka di bawah (paling kecil) adalah nomor atom. Jadi nomor massa = 23 dan nomor atom = 11.
Rumus jumlah proton = nomor atom, jumlah electron = proton dikurangi muatan. Jadi jumlah proton = 11 dan jumlah electron = 11–0 = 11.
Rumus jumlah neutron = nomor massa – jumlah proton. Jadi jumlah neutron = 23 – 11 =12.
Mudah-mudahan ini dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan lain yang berkenaan dengan notasi unsur.
2. Penentuan Posisi Unsur di dalam Tabel Periodik Unsur
Contoh : Perhatikan 23X11, tentukan letak golongan dan perioda unsur X di dalam tabel periodik unsur !
Penyelesaian
Untuk mengatasi sulitnya penulisan konfigurasi, ikutilah cara pengisian elektron pada setiap orbital (jenis-jenis orbita : orbital s, orbital p, orbital d, dan orbital f), dan harus diingat pada orbital s jumlah elektron maksimum 2 buah, pada orbital p jumlah elektron maksimum 6 buah, pada orbital d jumlah elektron maksimum 10 buah, pada orbital f jumlah elektron maksimum 14 buah.
Pengisian elektron menurut Aufbau sebagai berikut : dengan jumlah elektron yang maksimum
1s2,
2s2, 2p6,
3s2, 3p6,
4s2, 3d10, 4p6,
5s2, 4d10, 5p6,
6s2, 4f14, 5d10, 6p6,
7s2, 5f14, 6d10, 7p6
Jumlah elektronnya = proton – muatan = 11 – 0 = 11 buah,
dikonfigurasikan : 1s2, 2s2, 2p6, 3s1.
Kemudian menentukan letak golongan dengan memperhatikan orbital terakhir dan jumlah elektron valensinya.
Untuk menentukan jenis golongan (utama(A), atau transisi (B), dan transisi dalam (lantanida-aktinida), perlu diperhatikan hal-hal berikut.
Orbital terakhir s maka jenis golongan A (utama) jumlah elektron valensi = n dari sn
Orbital terakhir p maka jenis golongan tetap A (utama) jumlah elektron valensi = 2+n dari s2 pn.
Orbital terakhir d maka jenis golongan B (transisi) jumlah elektron valensi = 2+n dari s2 dn
Orbital terakhir f maka jenis golongan transisi dalam (lantanida dan aktinida) jumlah elektron valensi = 2+n atau (2+n)–10 dari s2 fn
Jadi untuk konfigurasi di atas : orbital terakhir adalah s1 maka jenis golongan A, dan golongan = elektron valensi = 1. Dapat disimpulkan letak golongannya adalah : Gol. IA.
Kemudian kita menentukan letak periodanya dengan memperhatikan banyaknya jumlah kulit elektronnya. Perhatikan kembali konfigurasinya : 1s2, 2s2, 2p6, 3s1
Terlihat jumlah kulit elektronnya ada 3 jadi unsur tersebut ada pada perioda 3.
Kesimpulan unsur X terletak pada golongan IA dan perioda 3
3. Membandingkan sifat-sifat unsur dalam tabel periodik unsur.
Contoh : Perhatikan antara atom Hidrogen (H) dan atom Okisgen (O) terjadi ikatan kovalen tunggal seperti pada air :
Tentukan unsur yang lebih kuat menarik elektron antara atom H dengan atom O bila diketahui nomor atom H=1 dan nomor atom O=8.
Penyelesaian
Kemampuan untuk menarik suatu elektron yang berikatan adalah sifat keelektronegatifan. Untuk mempermudah kita harus ingatkan sifat-sifat unsur yang terdapat dalam tabel periodik : 1. Dari kiri ke kanan dalam arah horizontal (perioda) sifat kelektronegatifan unsur, afinitas elektron, energy ionisasi semakin besar sedangkan jari-jari atom dan sifat logamnya semakin kecil. 2. Dari bawah ke atas dalam arah vertical (golongan) sifat keelektronegatifan unsur, afinitas elektron, energy ionisasi semakin besar sedangkan jari-jari atom dan sifat logamnya semakin kecil.
Jadi kita tentukan posisi atom H dan atom O dalam tabel periodik, pertama menentukan mana yang lebih kanan jika sama, kemudian kita tentukan mana yang lebih atas.
Atom dengan nomor atom 1 = konfigurasi 1s1 (Gol. IA perioda 1)
Atom dengan nomor atom 8 = konfigurasi 1s2, 2s2, 2p4 (Gol. IVA perioda 2)
Jadi unsur yang paling kanan adalah atom yang bernomor 8 (Gol. IVA) yaitu unsur O lebih kuat menarik elekron dari ikatan antara O dan H.
4. Menentukan massa atom relatif dan massa molekul relatif
4.1. Menentukan massa atom relatif
Contoh : Dengan adanya spektrostokopi massa diketahuilah atom-atom dari satu unsur (unsurnya sama) ternyata ada sedikit perbedaan yaitu ada yang berbeda massanya (berisotop). Seperti unsur khlorin diketahui memiliki 2 iostop, yaitu khlorin-35 dengan kelimpahan di alam sebanyak 75% dan khlorin-37 dengan kelimpahan di alam sebanyak 25%. Tentukan massa atom relatif unsur khlorin !
Penyelesaian
Untuk menghitung massa atom relatif khlorin, kita harus mengetahui terlebih dahulu massa rata-rata 1 atom khlorin. Dari soal tidak ada massa rata-rata 1 atom khlorin, hanya ada isotop-isotop khlorin. Oleh karena itu kita harus menghitung terlebih dahulu massa rata-rata 1 atom khlorin dari isotop-isotpnya.
Khlorin punya 2 isotop, yaitu :
1. Khlorin-35 sebanyak 75%
2. Khlorin-37 sebanyak 25%
Massa rata-rata unsur khlorin = [(massa isotop 1) x persennya]+[(massa isotop 2) x persennya]
= [35 gram x 75%] + [37 gram x 25%]
= [2625%] + [ 925%] = 35500% = 35,5 gram
Jadi massa rata-rata satu atom khlorin = 35,5 gram
Kemudian kita hitung massa atom relatif khlorin (dilambangkan Ar Cl)
Ar Khlorin = massa rata-rata 1 atom Khlorin / (massa 1 atom C-12 / 12)
= 35,5 gram / (12 gram /12)
= 35,5
(catatan : massa 1 atom C-12 = 12 gram)
Jadi massa atom relatif khlorin = 35,5
KIMA ORGANIK
Kimia organik adalah percabangan studi ilmiah dari ilmu kimia mengenai struktur, sifat, komposisi, reaksi, dan sintesis senyawa organik. Senyawa organik dibangun terutama oleh karbon dan hidrogen, dan dapat mengandung unsur-unsur lain seperti nitrogen, oksigen, fosfor, halogen dan belerang. Definisi asli dari kimia organik ini berasal dari kesalahpahaman bahwa semua senyawa organik pasti berasal dari organisme hidup, namun telah dibuktikan bahwa ada beberapa perkecualian. Bahkan sebenarnya, kehidupan juga sangat bergantung pada kimia anorganik; sebagai contoh, banyak enzim yang mendasarkan kerjanya pada logam transisi seperti besi dan tembaga, juga gigi dan tulang yang komposisinya merupakan campuran dari senyama organik maupun anorganik. Contoh lainnya adalah larutan HCl, larutan ini berperan besar dalam proses pencernaan makanan yang hampir seluruh organisme (terutama organisme tingkat tinggi) memakai larutan HCl untuk mencerna makanannya, yang juga digolongkan dalam senyawa anorganik. Mengenai unsur karbon, kimia anorganik biasanya berkaitan dengan senyawa karbon yang sederhana yang tidak mengandung ikatan antar karbon misalnya oksida, garam, asam, karbid, dan mineral. Namun hal ini tidak berarti bahwa tidak ada senyawa karbon tunggal dalam senyawa organik misalnya metan dan turunannya.
Sejarah
Kimia organik sebagai suatu ilmu secara umum disetujui telah dimulai pada tahun 1828 dengan sintesis urea organik oleh Friedrich Woehler, yang secara tidak sengaja menguapkan larutan amonium sianat NH4OCN.
Langganan:
Postingan (Atom)


